• INFORMASI & PENDAFTARAN
  • (0274) 586688 & 562246
Cari Dokter Berdasarkan Klinik
Cari Dokter Berdasarkan Nama
Jadwal Dokter
 

Artikel

DAMPAK ANEMIA DEFISIENSI BESI PADA ANAK

Admin | 15 Agustus 2022 | 234
 
Penulis : Irnawati Dada Malika, S.Ked, Timotius Ivan Heriawan, S.Ked, Dewa Ketut Kartika Putra, S.Ked
Reviewer : dr. Devie Kristiani, M.Sc, Sp.A (K) 
 

          Anemia defisiensi besi (ADB) merupakan masalah defisiensi nutrien tersering pada anak di seluruh dunia terutama di negara sedang berkembang termasuk Indonesia. Penyakit ini disebabkan oleh kurangnya zat besi dalam tubuh penderita. Penyakit anemia merupakan istilah untuk menjelaskan rendahnya nilai hemoglobin (Hb) sesuai dengan umur dan jenis kelamin. Pada anak anak, ADB merupakan penyebab anemia terbanyak. Kejadian anemia defisiensi besi di Indonesia masih sangat tinggi, terutama pada wanita hamil, anak balita, usia sekolah dan pekerja berpenghasilan rendah. Pada anak-anak Indonesia angka kejadiannya berkisar 40-50%. Hasil survei kesehatan rumah tangga (SKRT) melaporkan kejadian anemia defisiensi besi sebanyak 48,1% pada kelompok usia balita dan 47,3% pada kelompok usia anak sekolah.  
 

Penyebab Anemia Defisiensi Besi Menurut Umur

Bayi kurang dari 1 tahun
  1. Cadangan besi kurang, a.l. karena bayi berat lahir rendah, prematuritas, lahir kembar, ASI ekslusif tanpa suplementasi besi, susu formula rendah besi, pertumbuhan cepat dan anemia selama kehamilan. 
  2. Alergi protein susu sapi Anak umur 1-2 tahun 
  3. Asupan besi kurang akibat tidak mendapat makanan tambahan atau minum susu murni berlebih. 
  4. Obesitas 
  5. Kebutuhan meningkat karena infeksi berulang / kronis. 
  6. Malabsorbsi. 

 

Anak umur 2 - 5 tahun
  1. Asupan besi kurang karena jenis makanan kurang mengandung Fe jenis heme atau minum susu berlebihan. 
  2. Obesitas 
  3. Kebutuhan meningkat karena infeksi berulang / kronis baik bakteri, virus ataupun parasit). 
  4. Kehilangan berlebihan akibat perdarahan (divertikulum Meckel / poliposis dsb). 
 
Anak umur 5 tahun - remaja
  1. Kehilangan berlebihan akibat perdarahan(a.l infestasi cacing tambang) 
  2. Menstruasi berlebihan pada remaja puteri. 
 
Kebutuhan Zat Besi Pada Anak
 
Usia  Jumlah Zat Besi Yang Direkomendasikan Setiap Hari 
7-12 Bulan   11 mg 
1-3 Tahun  7 mg 
4-8 Tahun  10 mg 
9-13 Tahun  8 mg 
14-18 Tahun, Perempuan  15 mg 
14-18 Tahun, Laki-laki  11 mg 




Gejala Anemia Defisiensi Besi Pada Anak

Biasanya diagnosis klinis tegak sesudah terjadi anemia, yang sebenarnya merupakan gejala lanjut dari kekurangan zat besi. Beberapa gejala yang dialami :  

  • Iritabel 
  • Lesu  
  • Lemas 
  • Nafsu makan berkurang 
  • Perhatian mudah teralihkan 
  • Cepat merasa lela 
  • Sulit berkonsentrasi 
  • Pusing atau sakit kepala 
  • Dada berdebar 

Hingga gejala anemia yang sangat berat berupa pica (gemar makan atau mengunyah benda tertentu seperti tanah, kertas, kotoran, alat tulis, pasta gigi, dll) 

 

Faktor Resiko Anemia Defisiensi Besi Pada Anak

  • Pertumbuhan yang cepat sehingga kebutuhan zat besi meningkat  
  • Pola makanan rendah zat besi. Susu merupakan sumber kalori utama bayi. Zat besi pada ASI  merupakan zat besi yang mudah diserap, tetapi zat besi pada susu formula memiliki bentuk ikatan non-heme sehingga lebih sulit diserap oleh usus. Pada bayi aterm, pemberian ASI saja sampai usia 6 bulan masih dapat memenuhi kebutuhan zat besi bayi, tetapi tidak bagi bayi prematur. Komposisi makanan kita yang lebih banyak mengandung sereal/serat juga berperan dalam penyerapan zat besi. Besi pada serat bersifat non-heme dan serat sendiri dapat menghambat penyerapan zat besi. 
  • Infeksi. Kuman penyebab infeksi menggunakan zat besi untuk pertumbuhan dan multiplikasinya. Sehingga anak yang sering infeksi dapat menderita kekurangan zat besi 
  • Perdarahan saluran cerna 
  • Malabsorbsi (gangguan penyerapan makanan dalam usus) 

 

Dampak Anemia Defisiensi Besi Pada Anak

Fungsi zat besi yang paling penting adalah dalam perkembangan system saraf yaitu diperlukan dalam proses mielinisasi, neurotransmitter, dendritogenesis dan metabolisme saraf. Kekurangan zat besi hingga anemia dapat menyebabkan : 

  • Menurunkan sistem kekebalan tubuh sehingga meningkatkan kemungkinan terjadinya infeksi 
  • Gangguan pertumbuhan organ tubuh akibat oksigenasi ke jaringan berkurang 
  • Kekurangan zat besi sangat mempengaruhi fungsi kognitif, tingkah laku dan pertumbuhan seorang bayi. 
  • Besi juga merupakan sumber energi bagi otot sehingga mempengaruhi ketahanan fisik dan menurunkan daya konsentrasi dan prestasi belajar pada anak 

 

Pencegahan Anemia Defisiensi Besi

  • Pencegahan dapat dilakukan dengan menghindari minum susu segar sapi yang berlebihan  
  • Memberikan makanan yang mudah absorbsi besinya (daging merah dan hati ayam) 
  • Sedangkan untuk bayi baru lahir, ibu harus menggalakkan ASI sampai 4-6 bulan untuk bayi cukup bulan, tetapi untuk bayi prematur mulai diberikan preparat besi saat usia 2 bulan atau makanan tambahan yang mengandung suplemen besi saat usia 4-6 bulan. • Hindari minum teh dan susu saat makan 

 

Diagnosis Anak dengan Anemia Defisiensi Besi

Hasil pemeriksaaan laboratorium biasanya sesuai dengan stadium kekurangan zat besi, yaitu: 

  • Stadium I: deplesi cadangan besi (penurunan kadar feritin) 
  • Stadium II: defisiensi besi tanpa anemia (penurunan SI dan TIBC) 
  • Stadium III: anemia defisiensi zat besi (penurunan Hb, MCV, Ht) 

Dianjurkan pemeriksaan laboratorium untuk mendeteksi dini defisiensi zat besi pada usia 1 tahun untuk bayi aterm, usia 6-9 bulan untuk bayi preterm, usia anak 2-3 tahun, 5 tahun dan saat dewasa muda. 


Penanganan Anemia Defisiensi Besi

Penanganan anak dengan anemi defisiensi besi yaitu :  

  1. Mengatasi faktor penyebab : riwayat nutrisi dan kelahiran, adanya perdarahan yang abnormal, pasca pembedahan  
  2. Pemberian preparat besi  
    Preparat yang tersedia ferous sulfat, ferous glukonat, ferous fumarat, dan ferous suksinat. Dosis besi elementel 4-6 mg/kgBB/ hari. Respons terapi degan menilai kenaikan kadar Hb/Ht setelah 1 bulan, yaitu kenaikan kadar Hb sebesar 2 g/dL atau lebih. 
    Bila respon ditemukan, terapi dilanjutkan sampai 2-3 bulan. 
    Komposisi besi elementel : 
Ferous fumarat  : 33 % merupakan besi elementel 
Ferous glukonas  : 11,6% merupakan besi elementel 
Ferous sulfat  : 20% merupakan besi elementel 

 

     3. Pemberin vitamin C 2X50 mg/hari untuk meningkatkan absorbsi besi   
     4. Pemberian asam folat  2X5-10 mg/hari untuk  meningkatkan aktifitas eritropoiesis
     5. Transfusi darah
         Jarang diperlukan, hanya diberi pada keadaan anemia yang sangat berat dengan kadar Hb < 4g/dL . Komponen darah yang
         diberi PRC
     6. Hindari makanan yang menghambat absorbsi besi (teh, susu murni, kuning telur, serat) dan obat seperti antasida dan
         kloramfenikol
     7. Banyak minum untuk mencegah terjadinya konstipasi (efek samping pemberian preparat besi )  

 

 

Sumber : 
Ozdemir N. (2015). Iron deficiency anemia from diagnosis to treatment in children. Turk pediatri Arsivi, 50 (1):11-19.
               https://doi.org/10.5152/tpa.2015.2337 
IDAI. Anemia Defisiensi Zat Besi. Jakarta: Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia; 2016. 
Baker RD, Greer FR, Committee on Nutrition American Academy of Pediatrics. Diagnosis and prevention of iron deficiency and iron
               deficiency anemia in infants and young children (0-3 years of age). Pediatrics 2010; 126:1040. 

 

JAM BERKUNJUNG

*Pagi 10.00 - 12.00 WIB | Sore 16.00 - 19.00 WIB
(*Pagi khusus Sabtu / Minggu / Libur)

- Selama masa pandemi jam berkunjung ditiadakan -