Program Pelayanan
Anda adalah pengunjung ke
42253

Program Pelayanan

6 September 2012
Osteoporosis (Pengeroposan Tulang)

Osteoporosis
 
Penyakit osteoporosis adalah berkurangnya kepadatan tulang yang progresif, sehingga tulang menjadi rapuh dan mudah patah. Tulang terdiri dari mineral-mineral seperti kalsium dan fosfat, sehingga tulang menjadi keras dan padat. Jika tubuh tidak mampu mengatur kandungan mineral dalam tulang, maka tulang menjadi kurang padat dan lebih rapuh, sehingga terjadilah osteoporosis.

Data di Indonesia:
  • Angka kejadian osteoporosis untuk umur kurang dari 70 tahun untuk perempuan sebanyak 18-36%, sedangkan laki-laki 20-27%, untuk umur di atas 70 tahun untuk perempuan 53.6%, laki-laki 38%
  • Lebih dari.50% keretakan osteoporosis pinggang di seluruh dunia kemungkinan terjadi di Asia pada 2050
  • Satu dari tiga perempuan dan satu dari lima laki-laki di Indonesia terserang osteoporosis atau keretakan tulang (Yayasan Osteoporosis Internasional)
  • Dua dari lima orang Indonesia memiliki resiko terkena penyakit osteoporosis (Depkes, 2006)

Jumlah penderita osteoporosis di Indonesia jauh lebih besar dari data terakhir Depkes, yang mematok angka 19.7% dari seluruh penduduk dengan alasan perokok di negeri ini urutan kedua di dunia setelah China.
 
 
Gejala Osteoporosis
 
Osteoporosis sering disebut sebagai Silent Disease karena proses kepadatan tulang berkurang secara perlahan (terutama pada penderita osteoporosis senilis) dan berlangsung secara progresif selama bertahun-tahun tanpa kita sadari dan tanpa disertai adanya gejala. Gejala-gejala baru timbul pada tahap osteoporosis lanjut, seperti:
  • patah tulang
  • punggung yang semakin membungkuk
  • hilangnya tinggi badan
  • nyeri punggung

Punuk Dowager kelengkungan abnormal dari tulang belakang yang disebabkan karena hancurnya kepadatan tulang belakang.

Untuk mengetahui osteoporosis sebelum terjadinya patah tulang dilakukan pemeriksaan yang menilai kepadatan tulang. Di Indonesia dikenal 3 cara penegakan penyakit osteoporosis, yaitu:
  1. Densitometer (Lunar), merupakan gold standard untuk pemeriksaan osteoporosis
  2. Densitometer-USG
  3. Pemeriksaan laboratorium untuk osteocalcin dan dioksipiridinolin, Ctx (C-Telopeptide)

Metode lain yang dapat dipakai untuk menegakkan penyakit osteoporosis, antara lain:
  • Sinar X untuk menunjukkan degenerasi tipikal dalam tulang punggung bagian bawah
  • Pengukuran massa tulang dengan memeriksa lengan, paha, dan tulang belakang
  • Tes darah yang dapat memperlihatkan naiknya kadar hormon paratiroid
  • Biopsi tulang untuk melihat tulang mengecil, keropos tetapi tampak normal


Faktor Resiko Osteoporosis

  1. Perempuan
  2. Usia
  3. Ras/Suku
  4. Keturunan penderita osteoporosis
  5. Gaya hidup kurang baik
    1. Konsumsi daging merah dan minuman bersoda
    2. Minuman berkafein dan beralkohol
    3. Malas olahraga
    4. Merokok
    5. Kurang kalsium
    6. Mengkonsumsi obat
    7. Kurus dan mungil
Para perempuan perlu waspada akan ancaman penyakit osteoporosis dibandingkan laki-laki. Karena penyakit ini baru muncul setelah usia lanjut, perempuan muda harus sadar dan segera melakukan tindakan pencegahan sebagai berikut:
  1. Asupan kalsium cukup
  2. Paparan sinar UV dan matahari (pagi dan sore)
  3. Melakukan olahraga dengan beban, jalan kaki, dansa, senam, atau jogging
  4. Gaya hidup sehat
  5. Hindari obat-obatan tertentu
  6. Mengkonsumsi obat (untuk beberapa orang tertentu)


Pengobatan
 
Tujuan pengobatan penyakit osteoporosis adalah untuk menghindari patah tulang bukan membuat tulang menjadi keras karena tulang keras tidak identik dengan penurunan resiko patah tulang.
 
Tulang yang keras bisa menjadi 'getas' karena kualitasnya tidak bagus. Pengobatan sebaiknya dilakukan sedini mungkin di mana arsitektur tulangnya belum rusak. Osteoporosis primer disebabkan oleh menopause, di mana tulang mulai keropos sekitar 5 tahun setelah menopause sehingga harus periksa BMD. Jika ternyata sudah keropos secepatnya diberi obat. Pengobatan harus sedini mungkin, kalau perlu sebelum ada keropos tulang tapi memiliki faktor resiko maka diobati. Hal ini dikarenakan kalau kualitas tulang terlanjur jelek maka tidak bisa dilakukan apa-apa lagi.
 
 
Informasi lebih lanjut silakan menghubungi:
RS BETHESDA
Jl. Jend. Sudirman 70 Yogyakarta 55224
Telp (0274) 586688, 562246