JOGJA
-
Paguyuban Becak Wisata Yogyakarta (PBWY) bekerja sama dengan Rumah
Sakit Bethesda mengadakan bakti sosial sunatan masal bagi delapan
anak para tukang becak. Kegiatan ini sendiri merupakan yang pertama
kalinya bagi PBWY. Ke depan diharapkan bisa dijadikan agenda tahunan.
Pembina
PBWY Elias Totok dan Ketua PBWY Paimin kepada Bernas Jogja di
sela-sela acara di Rumah Sakit Bethesda, Kamis (8/7), mengatakan
awalnya kegiatan ini berasal dari gagasan beberapa anggotanya yang
ingin menyunatkan anaknya tetapi terkendala biaya. PBWY kemudian
menggandeng Rumah Sakit Bethesda untuk melaksanakan kegiatan ini.
"Rata-rata
dari mereka berasal dari keluarga ekonomi lemah, sehingga dengan
adanya kegiatan ini bisa untuk meringankan beban. Kami sangat
terbantu sekali dan kami ucapkan terima kasih kepada Bethesda",
ujar Paimin.
Salah
satu dokter dari Rumah Sakit Bethesda, dr. Yanti W., yang juga
menangani sunatan masal menyambut gembira dengan kegiatan sosial
semacam ini.
"Buat
kami di Bethesda hal-hal seperti ini merupakan salah satu bentuk
kesinambungan kita dengan masayarakat dan tentunya kita sangat
welcome sekali", katanya.
Humas
RS Bethesda, Nuri, menggarisbawahi ini merupakan salah satu bagian
dari Corporate Social Responsibility (CSR), sebagai lembaga
kesehatan. Selain menggratiskan biaya, pihaknya juga memberikan
sarung, peci, dan baju koko kepada peserta.
Warga
Kricak Kidul bernama Wulandari (40) mengaku senang anaknya bisa ikut
dalam sunatan masal gratis. "Bebannya menjadi sedikit ringan", ungkap wanita yang berprofesi sebagai buruh ini. Delapan peserta
sunatan masal masing-masing Sekiawan Toro, Galih Siwi Jatra, Anton
Maianto, Yasrun Rahmadi, Ronggo Catur, Hermansyah, Bariq Juhar, dan
Lukas Candra.
Pelaksanaan
kegiatan ini ada sedikit kendala karena beberapa dari mereka menangis
ketakutan dan enggan disunat. Anton Maianto misalnya, bocah berumur
10 tahun asal Tegalrejo ini meronta-ronta karena ketakutan. Dengan
polosnya ia berujar takut mati kalau disunat.
Sontak
para orang tua dan tim medis tertawa tergelak mendengar alasannya,
meskipun sebentar kemudian ia terdiam dan mau disunat. Selanjutnya
mereka diarak dengan becak menuju Museum Karta Pustaka di Bintaran
Tengah untuk mengikuti rangkaian acara berikutnya. (c18)